Progres Capai 74 Persen, Pembangunan SRT 2 Tarakan Ditarget Rampung November 2026
TARAKAN - Pembangunan Sekolah Rakyat Terpadu (SRT) 2 Kota Tarakan terus menunjukkan progres signifikan. Hingga akhir Oktober 2026, capaian pembangunan telah mencapai 74 persen dan ditargetkan rampung pada November mendatang.
Gedung yang dibangun oleh Kementerian Pekerjaan Umum (PU) melalui Direktorat Jenderal Prasarana Strategis dikerjakan oleh PT. KSO Lestari Karya Bersama (LKB), PT RBM.
Hal tersebut disampaikan Reni, dari penyedia jasa KSO PT LKB, PT RBM selaku pelaksana proyek pembangunan SRT 2 Tarakan.
Reni menjelaskan, saat ini progres fisik bangunan gedung sudah hampir tuntas, termasuk pekerjaan mekanikal, elektrikal, dan plumbing atau MEP.
Selain struktur gedung utama, fasilitas pendukung seperti jaringan air bersih dan instalasi listrik juga telah terpasang.
"Progres pembangunan saat ini di minggu 43 sudah diangka 74,7 persen. Sampai saat ini sudah diproses listrik masuk dari PLN, PDAM juga, tapi karena listrik belum berjalan maka kami backup dengan genset," ujar Reni, Selasa (27/10/2026).
Dijelaskan lebih lanjut ada 8 gedung yang sudah rampung dikerjakan. Yaitu ruang belajar SMP dan SMA, asrama putra dan putri SMP, gedung ibadah dan dan gudang.
Gedung tersebut juga sudah difungsikan untuk kegiatan belajar mengajar serta kegiatan pendukung.
Tidak hanya bangunan, fasilitas penunjang pembelajaran juga telah disiapkan secara lengkap oleh pihak penyedia jasa. Mulai dari sarana belajar hingga furnitur seperti ranjang asrama, kursi, meja belajar, dan perabot lainnya sudah tersedia di lokasi.
"Furniturnya sudah lengkap, termasuk ranjang, kursi, meja kursi. Itu semua dari penyedia jasa," kata Reni.
Meski masih tersisa 24 persen, pihaknya optimis bisa menyelesaikan pekerjaan sesuai waktu yang diberikan yakni pada November.
"Kami berkomitmen untuk menyelesaikannya," imbuh Reni.
Reni menambahkan sebenarnya pihaknya bisa menyelesaikan lebih cepat. Namun dalam pengerjaannya, terdapat kendala yang dihadapi.
Di antaranya pekerjaan pematangan lahan yang memakan waktu cukup lama karena kondisi cuaca serta kondisi lahan yang rawa sehingga butuh penimbunan banyak.
"Kemarin itu karena kondisi curah hujan. Selain itu kendala pematangan lahan juga. Karena waktu awal itu lahan belum siap untuk pembangunan. Jadi untuk pematangan lahan ini memotong 77 hari kerja," bener Reni.
Ia menambahkan, secara konsep bangunan SRT 2 Tarakan memiliki kemiripan dengan Sekolah Rakyat yang ada di daerah lain di Indonesia, namun terdapat perbedaan pada tata letak atau layout yang disesuaikan dengan kondisi lahan dan kebutuhan di Tarakan.
Meski ada penyesuaian layout, standar fasilitas dan fungsi bangunan tetap mengacu pada standar nasional Sekolah Rakyat Terpadu yang dicanangkan pemerintah.
Ia berharap pembangunan SRT 2 Tarakan bisa selesai tepat waktu sesuai komitmen pada November 2026, sehingga dapat segera dimanfaatkan untuk mendukung peningkatan akses pendidikan di Kota Tarakan. (Rajab)
Sumber : RRI Tarakan

